PKBM Celah Cahaya: Mewujudkan Pendidikan Inklusif dan Relevan dengan Zaman

PKBM Celah Cahaya: Mewujudkan Pendidikan Inklusif dan Relevan dengan Zaman

Di tengah perkembangan zaman yang menuntut keterampilan baru dan akses pendidikan yang merata, kehadiran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi solusi alternatif yang sangat penting. Salah satu lembaga yang berkomitmen penuh terhadap hal tersebut adalah PKBM Celah Cahaya, sebuah satuan pendidikan non formal yang berdiri sejak tahun 2019 dan berlokasi di Kampung Sukawangi RT 01 RW 01, Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut.
PKBM Celah Cahaya: Mewujudkan Pendidikan Inklusif dan Relevan dengan Zaman

PKBM Celah Cahaya memiliki visi besar: menyediakan akses pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan zaman bagi semua kalangan. Visi ini selaras dengan gagasan pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning) yang ditekankan UNESCO, bahwa setiap orang berhak memperoleh kesempatan belajar tanpa dibatasi usia maupun latar belakang (UNESCO, 2015).
Misi ini diwujudkan melalui program kesetaraan untuk anak, remaja, hingga dewasa, pengembangan literasi berbasis potensi lokal, serta penciptaan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tuntutan global.

Sebagai lembaga pendidikan non formal, PKBM Celah Cahaya menyelenggarakan berbagai program strategis. Pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C dilaksanakan dengan pendekatan pembelajaran kontekstual, sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan yang aplikatif. Menurut Kemendikbudristek (2020), pendidikan kesetaraan menjadi jalan kedua bagi masyarakat yang putus sekolah agar tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau masuk dunia kerja.
Selain itu, program keaksaraan fungsional meningkatkan literasi dasar masyarakat, sementara pelatihan keterampilan berbasis ekonomi kreatif mempersiapkan masyarakat menghadapi era industri kreatif dan digital. Penguatan budaya literasi melalui Taman Baca Masyarakat (TBM) AIUEO juga sejalan dengan Gerakan Literasi Nasional (GLN, 2017) yang mendorong masyarakat gemar membaca dan berkarya.

PKBM Celah Cahaya mengutamakan fleksibilitas metode dengan tiga pendekatan utama: tutorial (pendampingan langsung oleh tutor), mandiri (belajar dengan modul dan media digital), serta tatap muka (diskusi, evaluasi, dan penguatan materi). Model ini konsisten dengan konsep blended learning yang diakui para pakar sebagai metode efektif untuk mengakomodasi gaya belajar berbeda dan memaksimalkan hasil (Bonk & Graham, 2012).

PKBM Celah Cahaya berperan penting membuka akses pendidikan bagi masyarakat yang belum menempuh jalur formal. Dengan menciptakan ruang belajar yang inklusif dan kolaboratif, lembaga ini mendukung visi Pendidikan untuk Semua (Education for All) yang dicanangkan UNESCO, serta kebijakan pemerintah Indonesia dalam menurunkan angka buta aksara dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (BPS, 2021).

PKBM Celah Cahaya memiliki identitas yang kuat karena terintegrasi dengan gerakan literasi masyarakat melalui komunitas Ngejah, serta berbasis pada gotong royong dan kebutuhan nyata masyarakat. Program unggulannya di bidang Teknologi Komputer dan Menjahit menjadi jawaban atas kebutuhan keterampilan abad 21: melek digital dan keterampilan praktis untuk mendukung kemandirian ekonomi. Hal ini sejalan dengan kerangka 21st Century Skills (Partnership for 21st Century Learning, 2019) yang menekankan pentingnya penguasaan teknologi, kreativitas, serta life skills dalam menghadapi era globalisasi.

Dengan semangat inovasi, inklusi, dan pemberdayaan, PKBM Celah Cahaya hadir sebagai ruang belajar modern yang tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga menumbuhkan daya saing masyarakat di tengah arus globalisasi. Di tempat ini, ilmu, teknologi, dan keterampilan hidup berpadu untuk membangun generasi yang lebih berdaya, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Referensi
  • UNESCO. (2015). Rethinking Education: Towards a global common good? Paris: UNESCO.
  • Kemendikbudristek. (2020). Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Masyarakat.
  • GLN. (2017). Gerakan Literasi Nasional. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Bonk, C. J., & Graham, C. R. (2012). The Handbook of Blended Learning: Global Perspectives, Local Designs. San Francisco: Pfeiffer Publishing.
  • BPS. (2021). Indeks Pembangunan Manusia 2021. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
  • Partnership for 21st Century Learning. (2019). Framework for 21st Century Learning. Washington DC.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

sr7themes.eu.org